from Zero to Hero to Foe

Hero

Sukses itu diraih dengan kerja keras dan diracik dengan sedikit keberuntungan. Banyak dari kita pernah merasakan “Ah, ga bener tuh slogan. Saya sudah kerja dari jam 7 pagi sampe jam 11 malem toh gitu-gitu saja hidup saya. Dia santai santai saja masuk kantor jam 9 pulang jam 2 tiap sore malam nongkrong sama temen di coffee shop, kok enak kali ya? Jangan-jangan bisnis ilegal.” 

Pemikiran seperti itu sudah ada sejak tempoe doeloe. Itu yang dinamakan “Rumput tetangga selalu lebih hijau.” Iri hati, cemburu, adalah kata yang tepat menggambarkan kondisi tersebut. Mengapa hal seperti di atas dapat terjadi? Mengapa ada orang yang bekerja sangat keras namun hanya berpenghasilan pas-pasan dan ada yang bekerja santai-santai dapat hidup mewah? Terakhir kita hanya menyalahkan Tuhan yang tidak adil terhadap manusia. Pada umumnya manusia mencari Tuhan ketika pasrah dalam kesulitan duniawi seperti masalah ekonomi atau penyakit yang tidak kunjung sembuh. Hari-hari biasa? 90% manusia lebih khawatir apakah mereka akan mendapatkan komentar buruk dari haters, atau berapa like yang didapat dari postingan di Facebook atau Instagram hari ini, baik yang digunakan untuk berjualan ataupun sekedar just for fun.

Mark Zukerberg awalnya menciptakan Facebook untuk kebutuhan alumni Harvard University untuk tetap terhubung dan saling berbagi cerita. Di dalamnya kita bisa mengunggah foto profil beserta data diri agar ikatan antar teman tetap terjalin bahkan setelah lulus kuliah. Siapa sangka program Facebook banyak diminati dan keanggotaannya dikembangkan hingga di luar universitas Harvard dan kini hingga seluruh dunia. Bukan hanya sekedar menyatukan alumni, tetapi penggunaannya menyasar menjadi media iklan bahkan sampai menjadi instrumen di dunia politik.

Kita harus senantiasa berubah mengikuti perkembangan jaman. Begitu juga Facebook senantiasa berkembang mengikuti permintaan penggunanya, demi memudahkan dan memanjakan penggunanya, demi meningkatkan jumlah penggunanya. Hingga sekarang ini Facebook dapat digunakan sebagai instrumen untuk mempelajari perilaku manusia. Kini kita berhadapan dengan dunia Artificial Intelligence (AI) di mana program komputer mempelajari perilaku kita melalui aktifitas kita di dunia maya, kita dapat dipelajari melalui situs apa yang kita kunjungi, pesan apa yang kita unggah ke media sosial. Semua pencarian kita akan dianggap sebagai hobi kita atau sesuatu yang sedang kita butuhkan pada saat itu. Dari data tersebut, perusahaan raksasa seperti Facebook dan Google dapat menyajikan iklan sesuai dengan apa yang sedang kita cari pada saat ini.

Feeling Down
Ketika Anda telah berusaha berbaik hati, namun Anda tetap disalahkan. Kuatkan hati Anda.

Kini Facebook — yang sudah memberikan kontribusi layanan gratis yang menyenangkan dan membantu masyarakat di seluruh dunia — malah mendapat kecaman dari berbagai pihak yang menuduhnya mengacaukan demokrasi di Amerika pada pemilihan presiden yang terbaru. Apakah Mark Zukerberg layak disalahkan atas penyalahgunaan teknologi yang dia ciptakan? 95% kemudahan dan kesenangan yang dia berikan kepada masyarakat lantas dia disalahkan atas 5% penyalahgunaan teknologi di lapangan. Kalau saya, mungkin saya langsung emosi dan menimpal “Ya sudah, jangan pakai produk saya lah kalo begitu. Sudah dikasih gratis, kasih mudah, kasih enak, masih juga salah.” Tapi Zukerberg menanggapinya lain. Memang emosi seperti itu juga terlintas di hatinya, tetapi dia memiliki hati untuk membuat produknya lebih baik lagi dengan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti berita palsu yang menyangkut politik dan sebagainya.

Today, Facebook is better prepared for these kinds of attacks. 
We will all need to continue improving and working together to stay ahead and protect our democracy.

Mark Zukerberg
F8 Facebook Developers conference on May 1, 2018 in San Jose, California.

Mengapa baru di atas tahun 2000 kita mengalami booming media sosial seperti ini? Sebenarnya apa yang dilakukan Facebook dan Google bisa dilakukan mayoritas pemrogram di dunia bahkan di kota kecil di Indonesia, tidak harus lahir di Amerika. Kini di Indonesia kita dapat menikmati internet cepat dan koneksi 4G hampir di seluruh Nusantara. Sebagai gambaran, inilah kecepatan internet di Amerika pada tahun 2000-an dan di Indonesia pada saat itu adalah koneksi GPRS atau maksimun EDGE (2G). Anda bisa membayangkan pada saat itu kita sudah sangat senang dengan SMS di ponsel Nokia, unduh nada dering dan logo operator yang masih kotak-kotak seperti Minecraft. Sementara di Amerika, para programmer sudah bermain dengan storage space seperti memberikan layanan email gratis dan di sekolah atau universitas mereka sudah bekerja dengan koneksi internet backbone setara 4G yang kita rasakan sekarang ini atau bahkan lebih cepat. Secara infrastruktur, kita ketinggalan 10 tahun. Ketika mereka mulai menyimpan seluruh data pengguna dan mempelajarinya, dan menampilkan informasi dalam bentuk grafis yang menarik untuk dilihat dan pengembangan Graphical User Interface (GUI) yang nyaman dengan animasi dan tombol, kita masih berkutat dengan menyederhanakan laman internet agar lebih ringkas, hemat data dan biaya dan cepat dalam menampilkan informasi (text based).

Apakah kita akan terus ketinggalan? Koneksi internet sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Indonesia, bukan lagi barang mewah yang hanya dapat dinikmati segelintir manusia. Dengan demikian para perusahaan telekomunikasi bersama-sama dengan pemerintah akan senantiasa mengembangkan jaringan koneksi internet sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di negara China yang kini banyak bergantung kepada koneksi internet hingga ke berbagai transaksi dan pembayaran, kini tidak kalah maju dengan negara Amerika. Begitupun dengan Indonesia yang kebutuhan akan koneksi internet terus berkembang hingga ke pelosok-pelosok. Ketika para operator telekomunikasi dan pemerintah bekerja meningkatkan layanan koneksi internet, kita harus berinovasi dengan koneksi yang tersedia. Kita harus berpikir di luar kotak. Kita tidak boleh dibayangi oleh produk-produk yang sudah ada sekarang yang sudah disediakan perusahaan-perusahaan raksasa. Kita harus memikirkan apa yang kita butuhkan, apa yang masyarakat luas butuhkan, kemudian kita hadirkan solusi untuk kebutuhan tersebut.

Bahkan sebelum sukses, kita harus mulai memperkuat hati kita sejak dini. Kita harus tahan terhadap cercaan dan makian dari orang-orang yang iri. Kita harus senantiasa fokus pada pelayanan kepada orang banyak, bukan melayani segelintir manusia yang punya kepentingan untuk diri mereka sendiri.

Tidak ada seorangpun yang senang menjadi pahlawan (hero) karena mereka tetaplah orang jahat (foe) bagi lawannya.

Chienline

chienline

Just an ordinary people ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com