Panjang Umur

Setiap kali seseorang berulang tahun, kita selalu mendoakan panjang umur. Kerap kita lihat manusia bekerja dan menabung kemudian menjelang usia tua ketika tubuh melemah dan penyakit menyerang terus menerus, manusia mengeluarkan segala tabungannya untuk berobat. Anak-anak berusaha habis-habisan demi kesembuhan orang tua mereka. Kita mengusahakan segala cara untuk menyembuhkan pasangan kita yang sakit.

Ketika manusia memasuki usia 40 tahun, mereka mulai memperhatikan kesehatan tubuh. Mereka mulai memilih makanan yang sehat. Mereka membayar lebih untuk sayur-sayuran organik (tumbuh alami tanpa pupuk). Mereka meningkatkan daya tahan tubuh dengan berbagai jenis suplemen kesehatan. Semua usaha dilakukan demi hidup lebih lama di dunia, demi umur yang lebih panjang.

Usia 70 tahun masih sehat dan aktif bekerja.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan percakapan antara dua pria dewasa. Yang satu (sebut saja si A) memiliki ibu yang hampir berusia 90 tahun, yang lain (sebut saja si B) memiliki ibu mertua yang berusia 90 tahun lebih. Si A mengeluhkan ibunya yang sudah tidak bisa apa-apa selain berbaring di ranjang. Dia harus mengurus ibunya, mengganti diapers, membasuh badan, menyuapi makanan. Dia juga harus berjualan di pasar untuk membiayai segala kebutuhan keluarga mereka. Dia mengeluhkan bahwa untuk mengurusi ibunya sangat banyak menyita waktunya, sehingga dia tidak dapat melakukan hal-hal lain atau mencari peluang lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dalam kasus ini siapa yang Anda kasihani? Si A ataukah ibunya?
Ibu mertua si B memang berusia 90 tahun lebih, namun dia masih dapat berjalan sendiri, makan sendiri dan mengurusi diri sendiri misalnya mandi dan sebagainya. Si B mengeluhkan bahwa dengan kehadiran ibu mertua di rumah dia sering merasa serba salah. Mau berpergian susah. Mau diajak, si ibu sudah tua dan gak tahan jalan, cepat lelah. Mau ditinggal juga tidak bisa, nanti kalau ada apa-apa di rumah gimana? Sempat terucap oleh si B bahwa kadang malah membuatnya merasa berdosa berpikiran agar Tuhan segera menjemput ibu mertuanya berpulang ke rumah Bapa. Siapa yang Anda kasihani? Si B yang telah bekerja keras mencari penghasilan untuk membiayai ibu mertuanya tetapi tidak dapat menikmati liburan meskipun dana untuk itu telah tersedia ataukah ibu mertuanya?

Sulit bagi kita untuk menjawab siapa yang dikasihani. Bagi kita yang membaca artikel ini pasti banyak yang mengasihani orang tua, yang sudah melahirkan, menjaga dan bekerja untuk membesarkan anaknya, namun akhirnya anaknya yang mengeluh merawat mereka bahkan mendoakannya cepat meninggal. Tetapi jika Anda berada di posisi si A atau si B, jujur, mungkin Anda memiliki perasaan dan keluhan yang sama seperti mereka. Setelah merawat orang tua Anda yang hanya terbaring di ranjang selama bertahun-tahun, mungkin Anda akan membuat dosa yang sama dengan mendoakan orang tua Anda cepat meninggal? Atau mungkin tidak demikian?

Saya pribadi tidak mendambakan umur panjang. Yang paling penting adalah saya menikmati setiap waktu yang ada selama saya masih hidup. Ketika saya mulai tua dan sakit, saya tidak akan menghabiskan seluruh tabungan saya untuk kesembuhan. Saya akan menyisakan untuk mereka yang masih hidup. Mengapa? Kita berjuang untuk kesembuhan, berapa lama kita sanggup bertahan? Di usia yang tua, penyakit yang diderita umumnya adalah penyakit komplikasi. Kita menyembuhkan satu penyakit maka menyusul bagian lain yang sakit. Orang-orang menyebutnya “Penyakit Orang Tua.” Bukan berarti sama sekali tidak diobati, tapi dana yang dikeluarkan adalah proporsional terhadap sisa tabungan kita. Bila dokter menjanjikan kesembuhan dengan dana 500 juta sementara saya memiliki tabungan 5 miliar, tentu gak ada salahnya saya menyembuhkan penyakit tersebut meskipun hanya untuk waktu beberapa bulan atau 1 tahun. Namun bila saya hanya memiliki tabungan 200 juta, maka saya tidak akan menambah beban hutang kepada istri dan anak saya. Saya akan menikmati sisa hidup saya sebaik mungkin. Setidaknya itu yang akan saya lakukan. Bagaimana dengan Anda?

Tumbuhkan cinta kasih tanpa syarat dan jalani kehidupan yang berarti. Ajahn Brahm menyampaikannya dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti dan dibumbui dengan sedikit humor. Di dalam bukunya yang berjudul “Hidup Senang Mati Tenang”, berisi untaian ceramah terpilih meliputi banyak aspek Buddhisme, mulai dari jantung hati Buddhisme, etika seksual Buddhis, sayuranisme, keterbatasan psikologi, kebingungan filsafat, dan yang tak kalah seru: Buddhisme vs sains. Buku ini juga merupakan panduan praktis untuk berlatih melepas, mengikis kemelekatan, bahkan latihan mati.

Saya sendiri belum  sempat memilikinya dan membacanya, tetapi sudah tercatat di dalam daftar buku wajib beli. Salah satu ceramahnya dapat dibaca di sini : Living Meaningfully, Dying Joyfully. Hidup Senang Mati Tenang, no.9, Oleh : Ajahn Brahm.

chienline

Just an ordinary people ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com