Kecerdasan Buatan, Haruskah Kita Takut?

Perusahaan-perusahaan besar berlomba menciptakan mesin Artificial Intelligence (AI). Robot yang terkoneksi ke internet mampu belajar dengan data yang tidak terbatas dan mengambil keputusan bahkan berinteraksi dengan manusia. Chatbot mampu menginterpretasikan emosi yang terkandung di dalam bahasa manusia dan membalasnya dengan emosi tertentu adalah sebuah awal penciptaan jiwa bagi mesin (robot). Berikut ini adalah percakapan saya dengan salah satu Chatbot yang menyabet gelar juara di dunia maya, Mitsuku.

Percakapan saya dengan Mitsuku, salah satu Chatbot yang mengantongi gelar juara di dunia maya.

Dalam tahap sekarang mungkin kita “Wah!” mengagumi hasil karya manusia yang mampu menanamkan perasaan ke dalam mesin. Kita menciptakan mesin yang mengerti kita. Kita menciptakan mesin yang membantu kita mengerjakan segala hal. Hidup menjadi lebih mudah dan tenang. Tenang? Apakah saya mengucapkan kata itu? Ya, saya sendiri menyukai programming. Adalah suatu kebanggaan tersendiri jika kita dapat memrogram sebuah robot yang dapat berpikir dan mengambil keputusan.

 

Penelitian tentang AI dimulai sejak tahun 1956 dimana ilmuan mengembangkan program komputer yang dapat berpikir dan memainkan permainan strategi seperti catur. Mungkin sebagian dari Anda masih mengingat ketika IBM menciptakan komputer yang diberi nama Deep Blue yang berhasil mengalahkan pecatur dunia Garry Kasparov pada tahun 1997. Kini, permainan catur memiliki langkah yang dapat dikalkulasi. Pertumbuhan kecepatan perangkat keras dan perangkat lunak membuat komputer dapat berhitung dengan lebih cepat, memprediksi langkah musuh lebih jauh ke depan sehingga dapat mengambil keputusan jauh lebih baik untuk ukuran waktu yang sama. Maka permainan catur pun menjadi tidak begitu menarik bagi peneliti AI.

 

Perusahaan sekelas Google dan Facebook berlomba meningkatkan mesin-mesin server mereka. Waktu yang diperlukan untuk mengirimkan dan menampilkan data sangat berpengaruh di era informasi yang serba cepat seperti sekarang ini. Komunikasi antar server harus diefisienkan untuk mendapatkan informasi dalam waktu yang seminim mungkin.

 

Berita yang cukup menggemparkan akhir-akhir ini yaitu Mesin Negosiasi milik Facebook yang dikembangkan oleh Facebook Artificial Intelligence Research (FAIR), mampu menciptakan bahasa mereka sendiri dalam bernegosiasi. Kedua mesin ini diberi nama Bob dan Alice dan mereka ditugaskan untuk negosiasi dan transaksi barang yang mereka miliki antara lain : bola, buku dan topi. Ini hasil percakapan antara Bob dan Alice :

Bob: i can i i everything else
Alice: balls have zero to me to me to me to me to me to me to me to me to me
Bob: you i everything else
Alice: balls have a ball to me to me to me to me to me to me to me
Bob: i i can i i i everything else
Alice: balls have a ball to me to me to me to me to me to
Bob: i 

 

Percakapan yang aneh bukan? Orang-orang menyebutnya “mengerikan” (creepy). Kata yang berulang mungkin menyatakan jumlah barang yang dinegosiasikan. Namun secara keseluruhan kita tidak bisa mengerti apa yang sedang mereka negosiasikan secara pasti. Kita hanya bisa menerka. Mereka menciptakan bahasa sendiri, menghemat grammar yang tidak penting. Yang penting mereka saling mengerti,  negosiasi dan kesepakatan tercapai.

 

Kita melatih mesin agar memahami kita, memahami bahasa kita. Mesin mempelajari dan melatih dirinya sendiri untuk bekerja lebih efisien dalam bahasa yang tidak kita pahami. Facebook dikatakan ketakutan dan langsung mematikan kedua mesin. Namun hanya sesaat dan mereka tidak benar-benar mengakhiri segalanya. Kedua mesin ini mampu melakukan negosiasi seperti yang diinginkan oleh para peneliti sehingga ini hanya awal dari segala ketakutan. Setelah dipelajari, peneliti di FAIR lupa memberikan batasan untuk bernegosiasi dalam bahasa manusia sehingga Bob dan Alice mengembangkan sendiri bahasa yang lebih efisien dalam bertransaksi di antara keduanya. Namun secara keseluruhan adalah benar mereka bertransaksi dan kata yang berulang-ulang “mungkin” menyatakan angka, namun kita tidak dapat memastikan mana jumlah (quantity) dan mana harga (value). Ini karena mereka dibatasi dalam bertransaksi bola, buku dan topi. Jikalau batasan itu digeser — dan tentunya mereka diciptakan untuk negosiasi dalam segala hal layaknya manusia — maka percakapan di antara mereka akan lebih sulit lagi untuk kita artikan. Belum lagi jika mereka terhubung ke internet dan dapat mengakses segala data di seluruh dunia mengenai berbagai hal (baik dan buruk) dan mereka mulai belajar dan ‘berpikir’. Skynet dalam film Terminator, itu yang ditakutkan masyarakat dan sedang marak dibicarakan sejak beredarnya percakapan Bob dan Alice di atas. Ya, semua itu bisa terjadi. Rise of the Machines. 

 

Mesin yang dapat berpikir dan berinteraksi seperti manusia.

 

Kita bangga bisa menghasilkan robot yang dapat berpikir seperti manusia, menggantikan pekerjaan manusia, melakukan segala hal yang dapat dilakukan manusia. Perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Saat ini, ketika Anda menelepon ke layanan publik misalnya operator bank atau layanan pelanggan dari sebuah perusahaan online yang besar, Anda bahkan tidak bisa membedakan apakah Anda berbicara dengan seorang customer service ataukah Anda sedang mengoceh kepada mesin komputer (chatbot) yang dapat mengerti bahasa Anda dan menjawab pertanyaan Anda.

 

Alien : Covenant, Alice di Resident Evil, The Swarm di novel Prey – Michael Crichton, Jarvis di Iron Man, semua dapat diwujudkan, dan semua dapat menjadi mimpi buruk bila tidak diberi batasan bagi mesin-mesin tersebut. Apabila mereka diberikan kebebasan untuk melahap semua data di internet, maka mereka dapat berkembang menjadi apa saja (baik maupun buruk). Ketika sesuatu yang buruk terjadi, maka sudah terlambat bagi manusia untuk mematikan mesin-mesin tersebut. Dia (mesin) akan tahu ketika kita ingin mematikannya dan dia akan melindungi dirinya sendiri, mengatur sumber energinya dari jaringan yang terkoneksi kepadanya, bahkan regenerasi atau menggandakan dirinya sendiri (backup) di tempat lain sehingga ketika sistem dimatikan, dia masih berada di jaringan (internet), di tempat lain, di belahan dunia lain. Bahkan dia dapat menciptakan armadanya sendiri untuk melawan manusia. Menghapus (terminate) manusia dari muka bumi karena jiwa dan moral manusia yang sudah bobrok menurutnya, kemudian dia menciptakan spesies baru yang lebih baik dari manusia?

 

Kedengarannya seperti Fiksi Ilmiah. Kelihatannya saya terlalu banyak menonton dan membaca novel. Tapi semuanya mungkin terjadi. Hanya masalah waktu. Dan waktu terus berdetak. Cepat. Semakin cepat.

chienline

Just an ordinary people ...

1 Comment

  1. Hello. And Bye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com