Saya Tahu, Saya Tidak Mau

Coffee powder

Keras kepala adalah kata yang cocok untuk menggantikan judul di atas. Kosakata lainnya yang dapat mengisi ungkapan di atas adalah pasrah dan egois. Kata egois lebih identik dengan keras kepala yang kita sebutkan di awal, namun kata pasrah menunjukkan  situasi yang berlawanan. Mari kita coba gambarkan satu per satu.

“Saya tahu, tapi saya tidak mau melakukannya, trus kamu mau apa?” Ini adalah ungkapan yang lebih mendetil mengenai judul di atas. Seringkali kita diberitahu tentang sesuatu hal, seringkali kita tahu mana yang baik dan mana yang kurang baik, tetapi ego kita kadang bisa membuat seseorang jengkel, marah. Keadaan seperti ini bisa saja disengaja. “Abisnya dia lucu kalo lagi marah.” Kadang kita ucapkan tanpa kita sadari, atau pas kita yang sedang kesal, “Terserah gue lah. Ga usah lo atur-atur gue.

Pada situasi lainnya saya melukiskan “Saya tahu, tapi saya tidak bisa.” Ini kita dihadapkan pada kondisi lain di mana kita harus memilih kondisi A (melakkukan) dan kondisi B (tidak melakukan). Kemampuan berpikir manusia menempatkan posisinya di atas makhluk lain. Kita selalu tahu mana yang baik dan mana yang kurang baik. Namun kita tidak bisa menjamin langkah yang kita ambil adalah yang paling tepat, karena apa yang kita putuskan saat itu akan mengakibatkan serangkaian kejadian lainnya yang kemungkinan di luar prediksi kita. Namun perlu diingat, setiap makhluk hidup selalu memilih yang terbaik.

Ketika kita harus memilih di antara dua pilihan, maka kita akan senantiasa memilih yang terbaik menurut kita.

Chienline

Pasrah pada kondisi di atas merupakan bagian dari pemikiran lebih lanjut mengenai apa yang akan terjadi berikutnya bila kita memilih kondisi A dan apa yang akan terjadi bila kita memilih kondisi B. Serangkaian pemikiran-pemikiran tersebut, apabila kita memikirkan hingga terlalu jauh maka hanya akan membuat kita semakin bingung dalam mengambil keputusan. Semua itu adalah hasil pemikiran kita dan belum tentu terjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kita memasukkan beberapa kondisi di dalamnya sebatas yang kita tahu sehingga kita dapat memprediksi hasilnya. Namun ada kondisi-kondisi lainnya yang mungkin tidak terpikir oleh kita atau mungkin terjadi secara instan sebagai hasil dari kejadian lainnya.

Bicara pasrah, inilah kondisi yang sedang saya alami saat ini. Flu, demam dilanjutkan dengan batuk yang telah berlangsung selama 2 minggu. Beberapa jenis obat batuk dan obat herbal telah dikonsumsi untuk meredakan batuk. Keluarga ikut sibuk merekomendasikan obat untuk meredakan batuk dan panas dalam. Satu papan obat untuk mengeluarkan dahak dan dua botol obat batuk telah dikonsumsi selama 2 minggu ini. Batuk mereda, namun sesekali tetap terbatuk ketika tenggorokan gatal akibat makanan kering dan saya tetap dikondisikan sebagai batuk yang belum sembuh total.

“Ke dokter lah. Udah lama, nanti tambah parah,” insting seorang ibu yang tidak tahan melihat anaknya sakit-sakitan. “Dokter sini (Tebing Tinggi) gak bisa, Ma, obatnya ringan. Sia-sia nanti bolak-balik ke dokter duit abis buat beli obat. Dokter di Medan juga sama ajah. Kayak yang kemarin palingan dibilang infeksi, gejala Tipus. Tenang ajah lah, cuman kelelahan. Cuman butuh istirahat yang cukup,” jawab saya.

Berdasarkan pengalaman yang kita alami sendiri, kita sebenarnya tahu apa permasalahan kita. Kita juga tahu solusi untuk permasalahan tersebut, namun kadang kita tidak mau melakukannya. Keras kepala? Pasrah? Kalau saya sih dua-duanya ada. Saya tahu saya butuh istirahat, saya butuh tidur sedikit lebih lama daripada biasanya, tetapi mengapa tidak saya lakukan? Di sisi “keras kepala” yaitu saya merasa waktu tersebut akan lebih baik digunakan untuk membaca daripada untuk tidur. Di sisi “pasrah”, saya merasa tidak nyaman ketika orang tua saya bekerja sedangkan saya tidur, jadi saya memilih membantu menyelesaikan pekerjaan sebelum pergi tidur. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini karena mereka juga mengerti kalau kita sedang tidak sehat. Tapi perasaan tidak nyaman dan sedikit perasaan “jangan dicap lembek” membuat kita memilih untuk sakit seminggu lebih lama daripada tidur dua jam lebih lama. Semua itu pilihan. Semua itu kalkulasikan oleh otak manusia yang sedemikian rumit dalam mempertimbangkan faktor-faktor internal dan eksternal dalam mengambil keputusan.

Berbagai jenis obat dikonsumsi untuk penyakit Keras Kepala

Seperti halnya pemrograman, ada kalanya kita mempelajari kembali penulisan kita, kita sederhanakan langkah-langkahnya, sehingga hasilnya lebih optimal dan komputer juga dapat bekerja lebih efisien dan dalam waktu yang lebih singkat. Demikian juga saya seharusnya mengambil waktu istirahat beberapa jam demi kesembuhan daripada menderita berminggu-minggu dalam keadaan sakit dan kerja tidak optimal.

Berbuat baik itu tidaklah mudah. Ketika Anda memikirkan orang lain, Anda malah dicap keras kepala. Walaupun demikian, tetaplah berbuat baik.

Chienline

Secangkir kopi sehari dikatakan memberikan dampak kesehatan pada tubuh kita. Namun ada saatnya ketika Anda harus berhenti mengkonsumsi kopi untuk beberapa saat untuk mengistirahatkan tubuh Anda. Cobalah teh herbal sebagai gantinya. Aromanya menenangkan dan herbal di dalamnya membantu penyembuhan secara alami hingga kita dapat beraktifitas kembali seperti biasa.

chienline

Just an ordinary people ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com