Kisah Kacamata

angryMan

Diangkat dari kisah nyata seorang pemuda biasa di Sumatra Utara. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, waktu dan lokasi kejadian. Semua itu hanya kebetulan yang tidak disengaja ...

Suatu ketika saya diundang dan dipertemukan dengan seorang Bhante favorit atasan saya di sebuah kursus Bahasa Inggris di kota Medan.

“Bhante, mana yang benar-benar BENAR (perbuatan)? Apakah segala sesuatu yang diajarkan di Tripitaka? Di Al-Qur’an? Di Alkitab? Di Weda? Bagaimana seseorang bisa menyimpulkan kalau ucapan orang tua dia lebih benar daripada ucapan orang tua saya? Saya sedang mencari jalan kebenaran.”

“Belum saatnya saya menjawab pertanyaanmu.” Kemudian Bhante melanjutkan ceramahnya yang lain, yang mana tidak ada satupun ucapannya yang masuk ke pikiran saya setelah kalimat tersebut. Bukan karena ceramahnya terlalu mendalam sehingga saya tidak mengerti, tetapi saya masih fokus dengan pertanyaan saya sehingga saya menolak mendengarkan yang lain.

Saya sok hebat? Saya merasa diri saya di atas Bhante tersebut sehingga saya tidak memerlukan ceramahnya? Bukan demikian. Lebih tepatnya saya tidak sabar. Lah, koq banyak yang bilang saya sangat super sabar? Jangan dengarkan kabar angin. Itu hoax.

Sejak hari itu saya tidak mau lagi menghadiri pertemuan tersebut meskipun saya diundang. Bhante tersebut bukan level Anda ya Bro? Bukan begitu. Lebih tepatnya saya masih marah karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan. Dan saya tidak bisa bersabar untuk mengikuti ajarannya satu per satu hingga tiba saatnya untuk mendapat jawaban tersebut. Apakah saya merasa lebih hebat dari Bhante? Tidak. Bahkan hingga saat ini saya tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya pada saat itu. Jalan kebenaran. Yang mana yang harus saya ikuti?

Hingga pada saat ini, saya masih mengikuti “kata hati”. Dan saya merasa kita semua juga melakukan hal yang sama, mengikuti kata hati, baik itu kata hati kita sendiri ataupun kata hati orang lain (nasihat dari orang lain).

Dari kisah di atas saya simpulkan sebagai berikut:

  • Kebenaran bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Seorang pencuri, dari kata “pencuri” kita sudah menilai salah, tetapi jika dia tidak punya keahlian untuk bekerja, dan tidak ada pekerjaan kasar yang bisa menghasilkan uang dalam sekejap (minimal kita bekerja dari pagi hingga sore baru digaji), sedangkan orang tuanya di rumah batuk tiada henti dan wajib segera dibawa ke puskesmas terdekat. Jaman sekarang puskesmas yang bisa memberikan layanan lagsung dan pembayaran ditunda belakangan? Saya kira hampir tidak ada. Bila Anda berada di posisi sang anak, apakah salah mengutamakan nyawa orang tua dibandingkan harga diri kita sendiri (mencuri)?
  • Benar dan Salah diciptakan oleh pikiran manusia dengan mengkondisikan berbagai faktor lingkungan sekitar atau faktor waktu.
YinYang
Yin Yang. Image by Deedster from Pixabay
  • Tidak ada yang sempurna. Selalu ada kebaikan di dalam keburukan dan selalu ada keburukan di dalam kebaikan. Manusia menyebutnya Yin dan Yang. Apakah seorang Bhante yang makan sayuran dan tidak membunuh serangga benar-benar bebas dari titik hitam? Coba Anda ketok kepala botaknya. Kalau tidak bereaksi, coba ketok berulang-ulang. Coba Anda bikin kegaduhan di Vihara, membunyikan lonceng tanpa henti? Saya yakin ada titik hitam di pikiran para Bhante yang super suci.

Amarah adalah salah satu sifat dasar yang dimiliki setiap manusia. Namun tingkat kemarahan dan cara mengendalikan amarah pada tiap manusia berbeda-beda, kembali ke kisah di atas, dengan pemikiran masing-masing di lingkungan tertentu dan pada waktu tertentu, turut mempengaruhi tingkat kemarahan seseorang terhadap sesuatu hal.

Apa yang membuat kita marah? Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Pertanyaannya adalah : Apakah Anda dapat menjamin segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan apa yang Anda inginkan/rencanakan? Jawabannya : “Tidak.” Maka amarah itu sendiri juga tidak mungkin hilang dari kehidupan Anda. Bahkan juga tidak akan hilang dari kehidupan seorang Bhante seperti kisah di atas, ketika Anda membunyikan lonceng terus menerus. Hanya saja si Bhante mungkin tidak menunjukkan kemarahannya secara langsung dengan menegur Anda, tetapi Anda akan duluan ditegur oleh umat yang berada di sekitar sana. Jelas titik hitam baik berupa marah, kesal, terganggu, akan timbul dalam diri Bhante meskipun hanya berbentuk pemikiran yang melintas sepersekian detik di kepalanya.

Salah satu topik yang sering menciptakan kemarahan di dalam diri saya adalah “Si Kaya dan Si Miskin”. Saudara-saudara saya sering disebut keluarga orang kaya, berkat perjuangan Kakek dari nol. Apa hebatnya saudara-saudara saya? Tidak ada. Yang hebat adalah Kakek saya. Apa yang hebat dari saya? Tidak ada. Yang hebat adalah Kakek saya.

Paman dan Bibi selalu bicara : “Cari pasangan harus orang yang kaya, biar masa depan Anda aman.” Bahkan saya juga menyaksikan langsung kemarahan seorang adik (A) kepada kakaknya(K) ketika anak si adik(AA) gagal berpacaran dengan adik dari menantu si Kakak (AMK) karena si Kakak(K) menceritakan bahwa adiknya(A) sedang dalam kesulitan finansial karena judi bola. Nah… kalimat di atas dibaca pelan-pelan dan digambar di kertas bila perlu.

  • Uang yang berbicara.
  • Tak ada uang tak ada suara.
  • Setiap manusia membutuhkan uang.
  • Siapa yang banyak uang maka dia yang berkuasa.

Kalimat-kalimat di atas sering kita dengar. Benar? Lah, apanya yang benar? “Kalimat-kalimat di atas sering kita dengar” atau kalimat-kalimat di atas yang benar? Saya tidak tahu menjawabnya. Saya belum menemukan jawaban atas “Jalan Kebenaran.” Jadi biarlah dijawab dalam hati masing-masing sesuai pemikiran masing-masing.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Nah, ketika Anda tidak mengenal seseorang dengan baik, maka Anda tidak tahu cara berpikirnya. Dan Anda menilai dirinya berdasarkan pemikiran Anda. Bagaikan seorang pastor mengoreksi ujian fisika seorang siswa dengan menggunakan kunci jawaban yang ada di dalam Alkitab. Tak nyambung gitu loh…

Sejak awal pernikahan saya selalu menekankan kepada istri saya : “Jangan pernah ikut campur soal warisan. Apapun yang dibagikan kepada kita, kita terima dengan ikhlas.” Jangan sampai kita ribut soal pembagian harta yang tidak adil dan sebagainya.

Ketika kita bicara “uang”, ya, benar manusia membutuhkan uang untuk hidup. Berapa banyak yang kita butuhkan? Untuk makan 3 kali sehari. Dikalikan 5, suami, istri dan tiga anak. Ditambah uang sekolah anak dikalikan 3. Ditambah pulsa telepon suami dan istri, dan kemudian anak jika sudah masuk sekolah dasar. Ditambah kuota internet suami dan istri dan anak. Ditambah 2 minggu sekali makan enak. Ditambah sebulan sekali jalan-jalan ke pantai atau ke Medan. Ditambah bla bla bla… tak akan ada habisnya, tak akan ada cukupnya. Trus gimana?

Baik. Mungkin yang kita butuhkan bukanlah uang. Saya bekerja. Saya diberi makan 3 kali sehari kali 5 orang. Saya digaji dan cukup untuk uang sekolah anak dan pulsa dan kuota internet anak dan istri. Dan cukup untuk sesekali makan enak. Dan cukup untuk sesekali jalan-jalan. Tapi saya tidak punya waktu untuk jalan-jalan, karena kalau saya pergi jalan-jalan, maka saya tidak bekerja. Dan kalau saya tidak bekerja, maka gaji saya dikurangi. Dan kalau gaji saya dikurangi, saya tidak mempunyai cukup uang untuk jalan-jalan.

Baik. Mungkin yang kita butuhkan bukanlah uang, juga bukanlah pekerjaan. Yang kita butuhkan adalah waktu. Kita cukupkan waktu untuk bekerja. Kita cukupkan waktu untuk makan enak. Kita cukupkan waktu untuk berlibur. Tetapi waktu itu tetap 24 jam sehari dan tidak dapat ditambah lagi. Hmm.. bagaimana kalau saya mengurangi waktu tidur agar dapat bekerja lebih, dan menghasilkan lebih, sehingga saya dapat waktu lebih untuk berlibur. Dengan mengurangi waktu tidur, dalam seminggu stamina tubuh menurun. Konsentrasi menurun. Hasil kerja kita juga menurun. Atasan juga memberikan nilai negatif dan mengurangi penghasilan kita. Kondisi tubuh yang menurun juga membuat kita terlalu lelah untuk menikmati liburan meskipun waktu dan uang sudah tersedia.

Hm.. bukan uang, bukan kerja, bukan waktu, trus apa yang kita butuhkan? Balance. Keseimbangan. Yin-Yang. Kita membutuhkan keseimbangan atas segala sesuatu di dalam hidup kita. Kita tidak bisa memaksakan segalanya, tetapi kita harus mengimbangi antara penghasilan (uang), kerja, dan waktu yang kita miliki. Kita melihat orang senang dapat membeli dan memiliki apa saja dengan mudah. Kita melihat orang lain senang dapat sering berpergian. Kita melihat orang lain senang setiap hari berkumpul dan makan dengan teman-teman di tempat yang berbeda-beda. Apakah uang mereka tidak akan habis setiap hari makan di luar? Dan apakah mereka tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang? Mereka berkumpul sarapan bareng. Malamnya mereka berkumpul makan malam bareng. Koq bisa? Apakah mereka anak orang kaya? Mereka adalah tukang eskrim keliling, pengusaha perabot, tukang pangkas, penjaga toko sparepart, pengusaha toko ponsel. Berapa kilo eskrim yang dapat Anda jual dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore? Berapa buah perabot yang dapat Anda jual sehari? Berapa kepala yang dapat Anda pangkas dalam 1 hari? Berapa buah hp yang dapat Anda jual dalam sehari dan dengan persaingan puluhan toko hp yang berderet sepanjang jalan yang sama?

Saya, yang sering disebut anak orang kaya (padahal bukan), yang bekerja keras dari jam 8 pagi hingga jam 11 malam, namun saya tidak bisa setiap hari makan di luar dan berkumpul dengan teman-teman. Namun mereka tetap melihat saya sebagai orang yang memiliki kehidupan yang lebih enak dibandingkan dengan mereka. Mengapa demikian? Hm.. “anak orang kaya”. Saya tahu finansial keluarga saya. Saya tahu bisnis keluarga saya. Predikat “kaya” tidak cocok melekat di saya maupun keluarga saya. Saya lebih memilih “K-Pop” dibanding “kaya”. Keluarga Populer. Keluarga kita terkenal di masyarakat berkat Kakek. Kakek saya orang kaya? Ya. Ayah saya orang kaya? Tidak. Dia K-Pop. Saya orang kaya? Ya, saya kaya kamu, ada susah ada senang. Setiap orang ada susah ada senang. Kita melihat orang lain enak, tiap hari berkumpul, santai, karena mereka memang menyukai hal tersebut. Saya kerja pagi siang malam. Penghasilan saya belum tentu melebihi penghasilan mereka yang hidupnya santai. Namun pekerjaan saya juga memberikan kebebasan tersendiri. Kedengarannya heboh “pagi-siang-malam”, namun tetap ada waktu luang di dalamnya. Ketika kita sama-sama memiliki waktu luang 1 jam, mereka memilih berkumpul dengan teman, saya memilih mengerjakan aktifitas ringan seperti mengistirahatkan raga sambil membaca dan sebagainya daripada menghabiskan waktu dan tenaga bergerak ke suatu tempat untuk berkumpul dan kemudian kembali ke pekerjaan. Itu adalah pilihan masing-masing. Apakah hidup mereka enak? Ya. Apakah hidup saya enak? Ya. Maka perbandingan enak tidak nya kehidupan seseorang tidak bisa dilihat dari 1 titik. Mereka enak ya bisa berkumpul setiap hari sedangkan saya setiap hari di gudang ditemani nyamuk dan debu. Kamu yang enak, santai jadi boss di gudang, sedangkan saya harus berjemur terik matahari sambil keliling menjajakan eskrim.

Kita bisa menjadi orang susah, sekaligus menjadi orang senang pada waktu yang bersamaan. Tergantung diri kita apakah kita memilih susah atau senang …

Chienline
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Kembali kepada si Kaya dan si Miskin. Penilaian ini juga dilakukan oleh otak manusia tergantung dari sisi mana dia melihat dan menilai. Saya pingin memiliki sepeda motor besar, maka saya mengumpulkan uang dari gaji saya dan mencari sepeda motor bekas kondisi 30% dengan harga super miring dan saya belajar memperbaiki hingga kini kondisinya 90%. Ketika orang-orang luar yang tidak mengetahui detil kehidupan saya melihat saya mengendarai sepeda motor tersebut dan mereka menilai : “Wah, orang kaya bener neh naik sepeda motor seharga sebuah mobil keluarga.” Karena dia menilai dengan kacamatanya dan dia tidak melihat detilnya, maka dia memberikan penilaian yang salah. Saya bukan orang kaya melainkan orang kecil yang memiliki hobi mahal. Namun saya bekerja keras untuk mengimbangi hobi tersebut. Ya. Saya orang kecil, pekerja keras.

Poor Man – Rich Man – Photo by Max Böhme on Unsplash

Suatu ketika istri saya menemukan sebuah benjolan pada payudaranya. Panik pun segera melanda karena benjolan pada payudara umumnya adalah tumor/kanker payudara yang bisa berakibat fatal. Maka si istri yang sudah panik segera memeriksakan diri ke dokter di Medan. Malamnya, kekhawatiran tersebut belum juga hilang. Maka kami memutuskan untuk mengkonsultasikan dengan dokter kepercayaan, yang telah menangani kelahiran 3 orang anak kami. Belum puas dengan diagnosa dokter – karena kecemasan belum juga hilang – maka kami datangi dokter ketiga, spesialis penanganan masalah benjolan pada payudara, atas rujukan dokter kepercayaan kami tersebut. Dari diagnosa ketiga dokter tersebut disimpulkan : “Benjolan masih terlalu kecil untuk dikategorikan dalam bahaya tingkat tinggi. Juga masih terlalu kecil untuk dilakukan pengangkatan/dihilangkan. Namun harus tetap diwaspadai dan dilakukan pemeriksaan ulang dalam waktu 6 bulan ke depan.“ 6 bulan mungkin tidak lama untuk ukuran sekarang, melihat lajunya waktu berlalu dari hari ke hari. Namun 6 bulan adalah waktu yang cukup lama untuk mengkhawatirkan benjolan tersebut, sehingga kecemasan kami pun mereda setelah menggabungkan diagnosa ketiga dokter yang mengkategorikan benjolan tersebut sebagai sesuatu yang belum bisa divonis berbahaya dan sesuatu yang belum bisa diapa-apain melainkan diperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu hingga mencapai ukuran yang cukup besar untuk dapat dideteksi lebih akurat, atau bahkan mengecil dan menghilang dengan sendirinya.

Siapa sangka beberapa bulan kedepannya ternyata ada yang marah terhadap saya karena lebih memilih menghabiskan uang tabungan untuk jalan-jalan ke luar negri daripada memeriksakan kesehatan istri ke luar negri. Otak Anda melakukan tugas pengolahan data sesuai kebiasaan Anda, sesuai lingkungan Anda, sesuai kehidupan Anda. Otak saya mengolah data sesuai dengan didikan yang saya terima, sesuai dengan kebiasaan saya, dan lingkungan saya. Jadi saya tidak perlu marah ketika otak Anda memberikan pendapat yang berbeda dengan otak saya.

Jika Anda penasaran dan ingin tahu cara kerja otak saya, silahkan lanjutkan membaca. Rasa penasaran adalah salah satu motivasi kita untuk belajar. Untuk mengetahui “Mengapa begini? Mengapa begitu?”. Tiga dokter dengan diagnosa yang sama. Kalau satu, oke, saya belum percaya omongan dia. Kalau dua, biasanya sih sudah oke, tapi saya masih ada keraguan. Tiga – dengan diagnosa yang sama – suruh kembali periksa 6 bulan kemudian, bagi saya cukup meyakinkan, artinya tidak akan ada bahaya yang berlebihan dalam waktu 6 bulan ke depan. Dan dalam jangka waktu tersebut kita tetap mengkonsumsi obat tradisional dengan harapan benjolan tersebut dapat mengecil dan menghilang.

Saya tidak ada masalah dengan biaya ke Penang. Meskipun lumayan berat karena saya bukan orang kaya, namun masih bisa saya cover. Bahkan tabungan istri saya mencukupi untuk pergi memeriksakan diri dan dia tidak memerlukan ijin dari saya untuk menggunakan uang miliknya untuk kesehatan dia (dan dia juga tahu kalau saya tidak akan melarangnya jika dia masih ingin memeriksakan ke dokter keempat). Namun kata-kata yang beredar memiliki pengertian lebih kurang sebagai berikut : “Anda menikah dan masuk ke dalam keluarga besar orang kaya. Mereka bahkan tidak menyuarakan untuk berobat ke Penang, apalagi memberikan bantuan dana. Artinya kamu tidak dianggap/diterima sebagai anggota keluarga.”

Helloowww…. Perlu diingat, ini masalah istri saya. Masalah saya. Masalah keluarga saya. Kami yang memutuskan berobat ke mana sesuai dengan budget kita. Jangan libatkan orang lain, Orang Tua, saudara, famili atau keluarga besar orang kaya. Kalau Anda memahami saya dan istri saya dan bersedia membantu, maka bantulah. Bukan dengan menunjuk dan menyalahkan orang lain karena tidak mau membantu. Ketika kita mempertanyakan “Mengapa mereka tidak membantu?” Jawabannya mungkin karena mereka tidak menganggapmu ada (di dalam keluarga), kamu orang luar yang menikah ke dalam dan status kamu tetap orang luar, tidak ada gunanya membantumu, sudah dibantu nanti kamu malah minta jagain dan urusin anakmu lagi di rumah.

Kemudian sekarang coba tanyakan kepada diri Anda sendiri “Mengapa saya tidak membantu?” Saya baru buka usaha, banyak yang mau diurus dan banyak yang mau dibayar. Lagian keluarga dia lebih kaya daripada saya. Masak saya yang bantu?

Seperti sebelumnya, baik dan buruk, benar dan salah, susah dan senang, bisa hadir sekaligus dalam waktu yang bersamaan, tergantung kita yang memilihnya. Kita selalu punya alasan untuk membenarkan pilihan kita. Saya tidak mempermasalahkan itu. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan universal “Mengapa semua orang tidak membantu?Karena saya tidak meminta bantuan. Kalaupun Anda menyodorkan bantuan, mungkin saya tolak, karena saya masih mampu bekerja dan membiayai. Saya tidak mau berhutang budi, karena pada saat saya dibutuhkan untuk membalas budi dan saya tidak sanggup, saya yang harus menanggung malu. Karena itu saya tidak akan meminta bantuan selagi saya mampu. Itulah saya. Apakah saya sok? Terserah apapun istilah yang diberikan kepada saya. Apakah artinya saya banyak duit dan mampu? Banyak sih tidak, saya bukan orang kaya, tapi selama saya mampu, saya tidak mau menyusahkan orang lain.

Mereka (yang tidak membantu) memiliki sifat buruk? Ya. Mereka cuek dan tidak peduli? Ya. Mereka sering memiliki pendapat yang berbeda dengan kita? Ya. Jelas saja, karena mereka memiliki otak yang berbeda, dan dibesarkan di lingkungan dan waktu yang berbeda. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan hal itu. Masalahnya adalah ada benjolan di payudara istri  saya dan kami sudah menanganinya. Bukan masalah mereka. Juga bukan masalah Anda.

Photo by Suhyeon Choi on Unsplash

Dan benar pada saat yang bersamaan saya menerima hadiah berupa tiket ke Eropa. Yang mana saya juga sedang bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan tambahan untuk dapat berangkat ke sana. Tentunya setelah kebutuhan utama saya sudah tercukupi. Tidak mungkin saya mengurangi makan anak istri yang tadinya 3 kali sehari menjadi 1 kali sehari hanya demi mempersiapkan perjalanan ke Eropa. Tidak mungkin saya membiarkan istri saya menderita sakit tanpa diobati hanya untuk perjalanan tersebut. Buat apa dipersiapkan perjalanan tersebut kalau istri saya malah sakit dan tidak dapat melakukan perjalanan yang sudah disiapkan? Jadi sangat tidak benar jika saya disebut orang kaya yang lebih mengutamakan perjalanan ke Eropa daripada memeriksakan kesehatan istrinya ke Penang. Bahkan kesalahan dalam kalimat tersebut lebih dari satu. Saya bukan orang kaya.

Masih seputar pandangan si Kaya dan si Miskin. Sering kita melihat tingkat finansial seseorang dari kacamata kita dan mendengar dari telinga kita. Cobalah memandang seseorang dari kacamata dia, maka Anda akan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Sulit? Susah? Tentu saja. Untuk melihat dari “kacamata dia”, kita juga harus hidup berdampingan dengan dia. Mempelajari kehidupan dia. Mempelajari cara berpikir dia. Mempelajari kebiasaan-kebiasaan dia. Baru lah otak kita dapat menarik kesimpulan seperti dia. Bila tidak maka otak kita akan mengolah data sesuai dengan kehidupan dan kebiasaan dan lingkungan kita. Itupun tidak bisa persis sama, karena masih banyak pengalaman masa lalu yang mungkin terlupakan atau belum diceritakan, yang dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang terhadap sesuatu hal.

Manusia itu UNIK. Tidak ada yang sama persis di dunia ini.

Chienline

Dan rumput tetangga selalu lebih hijau. Ketika saya melihat seseorang berpergian, yang terlintas di kepala adalah : “Enak banget dia, baru minggu lalu ke pantai. Besok dia ke Jakarta. Dua bulan lagi dia mau ke Eropa. Andaikan saya bisa seperti itu….”

Ini jawaban dia : Mungkin kamu tidak akan berpikir demikian kalau kamu tahu sebelum ke pantai saya harus berkumpul dengan orang-orang yang tidak dikenal dan tidak jelas arah tujuan dan saya harus capek mengurus tiga orang anak yang ribut ingin cepat pulang ke rumah agar dapat menikmati permainan game online dan juga saya harus makan berdiri di tepi tenda sehingga setengah leher terbakar terik matahari siang hari dan diperjalanan ke pantai kami harus duduk sempit-sempitan bersama dengan sayur-sayuran dan ubi kayu dan dipertengahan jalan kami harus parkir dan menunggu anggota konvoi yang salah arah sebelum akhirnya tiba di pantai dan harus pulang 1 jam setelahnya karena matahari sudah tenggelam. (Ah.. tentunya ada versi senang dari kisah ini, seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa susah dan senang dapat terjadi bersamaan, kita yang pilih.)

Kemudian kamu juga mungkin tidak akan memilih ke Jakarta kalau kamu tahu sampai di sana saya hanya bisa jalan kaki ke mall di sebelah hotel yang tidak begitu menarik dan juga harus jalan kaki menuju ke kedutaan untuk mengurus visa perjalanan yang meskipun dekat  namun harus melalui pinggir jalan yang dibatasi cone dan tali dan di bawah terik matahari pagi, tidak seperti trotoar luas di Singapura dan kemudian saya harus menunggu satu jam lebih di kedutaan tanpa bisa melakukan apa-apa dan setelahnya saya menghabiskan uang taxi dengan sia-sia menuju ITC Mangga Dua yang katanya tempat belanja murah meriah yang akhirnya pulang dengan tiga potong celana dalam dan waktu satu hari telah terlewati habis di dalam taxi pulang pergi. (Ah… sebegitu buruk kah perjalanan hidupnya? Mungkin Tuhan pun menangis membaca kisah hidupnya…)

Kita menilai orang lain dengan kacamata kita, dan orang lain juga menilai kita dengan kacamata mereka. Sama-sama salah. Karena itu janganlah kita menilai orang lain karena semua itu hanya akan berakhir dengan aksi balas dendam yang mana tidak ada kebenaran di dalamnya. Sama-sama salah.

Akan lebih baik kalau kita menjalani kisah hidup kita sendiri. Dan bangga akan diri kita sendiri yang mungkin telah berhasil memiliki usaha milik sendiri. Orang lain yang tinggal di rumah orang tuanya memiliki sejumlah uang untuk beli tiket pesawat. Apakah kita sadari kalau kita memiliki uang jauh lebih banyak dalam bentuk asset di toko dan rumah kita? Apakah kita sadari kalau di total dalam setahun mungkin perjalanan kita lebih banyak dibanding mereka? Jangan. Jangan dibandingkan. Tapi bersyukurlah atas perjalan hidup kita. Senang dan susah kita ciptakan sendiri melalui pikiran kita, jadi mengapa harus melekat dengan si “susah”? Mengapa harus menyusahkan diri untuk merasa senang?

Hanya dalam ketenangan kita dapat berpikir dengan jernih.

Chienline

Itu sebabnya para Biksu lebih banyak menghabiskan waktu untuk meditasi. Kita berada di dunia serba cepat. Mengemudi kendaraan, mata dan otak harus bekerja cepat memprediksi laju kendaraan kita dan juga kendaraan-kendaraan yang ada di depan, di samping kanan kiri dan dibelakang kita. Memprediksi gerakan pejalan kaki dan kendaraan yang menyebrang. Dalam dunia bisnis, informasi pergerakan harga, permintaan barang dan persediaan barang juga bergerak cepat. Segala sesuatu bergerak lebih cepat. Jadi ingatlah, hanya dalam ketenangan kita dapat berpikir dengan jernih.

Istriku. Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa engkau sudah selangkah lebih maju. Engkau memberi nasihat positif, namun engkau lupa mengganti kacamata sehingga engkau tidak bisa memastikan apakah dia benar-benar bermasalah dengan finansial, atau dia hanya butuh pelampiasan. Sering saya jumpai kasus di masyarakat kira-kira seperti ini : Si A punya tabungan katakanlah 50 juta, hasil menabung dari gajinya selama 10 tahun terakhir. Si A membeli ponsel baru seharga 10 juta dengan cara cicilan sekitar 1 juta per bulan. Si B adalah teman dekat si A. Si B mengajak si A untuk refreshing ke Bali.

  • B : Bro.. ke Bali yuk. Jangan kerja melulu.
  • A : Ah, enggak lah. Kamu ajah. Lagi bokek. Mana mo nyicil neh hape lagi, baru juga 2 bulan. Nanti deh kalo da lunas.
  • B : Yah… si Bro, satu juta lima ratus ajah pake tabunganmu gak akan terasa, sebulan lagi dah kembali utuh tuh tabungan.
  • A : Enggak ah. Males. Nanti ajah kalo hape ku dah lunas. Satu setengah juta mending gue pigi makan Sushi Tei, masih ada kembaliannya.

Dua bulan kemudian :

  • A : Psttt, Mas Bro … Tuh liad di Traveloka ada promo tuh. 5 hari di Osaka cuman 15 juta Bro.
  • B : Ya e la…. kemaren ajak lo ke Bali satu setengah ajah loe ngedumel. Ini 15 juta lo bilang “cuman“.
  • A : Hadeh Bro… Normal price 20 juta loh. Kapan lagi bisa dapat promo semurah ini?

Dari kisah di atas kita tidak bisa tahu skala finansial seseorang hanya dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Bahkan dari saudara kandung kita sendiri pun kita tidak bisa menebak kalau tidak saling berbagi informasi. Terkadang, ada yang tidak bisa kita ceritakan … atau kita merasa tidak perlu menceritakannya.

Contoh berikutnya, pernahkah Anda marah kepada anak ketika si anak sedang tidak sehat, mual, dan muntah di mobil kesayangan Anda atau di tempat tidur Anda? Mengapa Anda marah? Karena Anda memikirkan kerepotan yang harus Anda jalani untuk membersihkannya. Apalagi air muntahan menyerap ke jok mobil atau tilam dan baunya tidak akan hilang dalam waktu dekat. “Arrrggghhh….. Kenapa ga di kamar mandi? Kenapa ga buka jendela dan muntah ke luar? Kenapa mesti di sini? Bauknya setengah mati.”

Cobalah mengganti kacamata Anda. Pakailah kacamata si anak. Apa yang Anda rasakan ketika tubuh Anda lemas dan mual tidak sesuai kehendak Anda, dan Anda muntah. Anda sakit dan Anda dimarahi (lagi). Banyak yang bilang saya mengerti karena saya juga tukang muntah di mobil. Tapi bukan itu. Karena saya belajar mengganti kacamata …

Photo by João Paulo de Souza Oliveira on Unsplash

Mata manusia mampu menginterpretasikan gambar dan warna yang indah. Maka carilah dan lihatlah hal-hal indah di sekeliling Anda …

Chienline

chienline

Just an ordinary people ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com